Aruna dan Lidahnya: Perwujudan Mutu Film dan Buku yang sama bagusnya!

Halo, kawan Kudapan Aksara dan Jurnal Skeeter!

Kali ini, saya akan sedikit menceritakan opini saya tentang novel juga film yang sedang tayang di bioskop, Aruna dan Lidahnya🍨🌮🌯🍿🌶💁

Kalau kamu penasaran dan sempat berpikir untuk wajib baca novelnya dahulu baru menonton, menurut kami tidak perlu. Tokoh-tokoh di buku dan film tidak semuanya ada dan diceritakan secara jelas di film, bahkan ada perbedaan alur cerita. Naskah film yang dibuat berdasarkan interpretasi bebas sang penulis naskah film.

Aruna dan Lidahnya berkisah mengenai seorang wanita berumur 30-an bernama Aruna Rai (pada film diperankan oleh Dian Sastrowardoyo) yang sangat menyukai makanan. Aruna yang bekerja sebagai seorang epidemiologis (ahli wabah) diberi tugas untuk turun ke lapangan meninjau penyebaran virus flu burung yang sedang marak terjadi di Indonesia. Dengan kesempatan inilah, Aruna menjalankan hasratnya untuk berwisata kuliner sambil bekerja. Ditemani oleh sahabatnya, Bono, yang seorang chef (diperankan oleh Nicholas Saputra), ia menyinggahi beberapa kota seperti Pamekasan, Surabaya, Singkawang, Pontianak, hingga Aceh (namun pada film, cerita di Aceh tidak diceritakan). Disusul oleh sahabatnya yang lain, Nadezdha (diperankan oleh Hannah Al Rashid). Pelengkap dari cerita antar sahabat ini adalah kehadiran tokoh Farish, rekan kerja Aruna (diperankan oleh Oka Antara) yang menemani Aruna untuk menginvestigasi perihal virus flu burung.
Semakin kompleks cerita yang timbul dan saling berhubungan antar tokoh menjadi daya tarik bagi pembaca maupun penonton untuk menikmati sajian yang dibuat oleh sang penulis novel, yaitu Laksmi Pamuntjak.

Dengan dihilangkannya beberapa cerita di film, membuat alur film ini sendiri menjadi lebih fokus dan tidak membosankan bagi penonton yang belum membaca. Edwin, sebagai sutradara yang dikenal lewat film Posesif (2017) dinilai apik dalam mengemas cerita yang sarat akan ragam tema (bukan hanya makanan, tapi juga politik, agama, sosial dan percintaan). Dengan genre film romantic comedy yang diusung, Aruna dan Lidahnya berhasil menghasut saya untuk menonton tidak hanya sekali, tapi berkali kali.

Jujur, dari 10 detik pertama film dimulai, saya sudah memastikan bahwa akan menyukai film ini. Warna-warna yang dipilih untuk tampilan gambar, wardrobe pemain yang pas dengan karakter, alur cerita yang pas dan menarik, komedi yang beneran lucu dan pas, drama percintaan orang kantoran yang sangat relate dengan dunia nyata, semuanya baik.

Jika kalian adalah fans Cinta dan Rangga, seharusnya kalian patut berbangga atau malah sedih, karena Dian dan Nico beneran sukses terlepas dari imej Cinta dan Rangga ala AADC. Film ini melahirkan ikon baru karena memang jika kita membicarakan dan melihat kehidupan orang-orang kantoran, keempat karakter inilah yang mewakili kehidupan generasi mereka. Penokohan yang porsinya sesuai di film ini menjadi nilai lebih sang penulis naskah.

Dengan gaya penceritaan yang menjadikan Aruna sebagai pusat perhatian, apalagi dengan gaya break the fourth wall (karakter berbicara langsung dengan penonton) sangat jarang ditemui di film-film Indonesia. Semua karakter tidak ada yang tenggelam oleh karakter lainnya. Cerita antara Bono dan Nad, Aruna dan Bono, Nad dan Aruna, Aruna dan Farish serta Nad dan Farish, semuanya seimbang dan pastinya bikin baper. Berbicara masalah makanan, tampilan makanan dan cara pengambilan gambar di film ini sangat bagus, saking bagusnya keluar dari bioskop dijamin lapar (saya dan teman saya, Zahra, begitu keluar bioskop langsung beli bakso kocok Bandung). Film ini adalah alat promosi yang secara visual mampu menjual daya tarik makanan lokal Indonesia (scene di Bakmi Kepiting Singkawang super duper bikin ngiler!).

Dari segi isi novel, saya sangat suka dengan gaya bercerita Laksmi Pamuntjak yang memainkan peran Aruna di dalam buku sangatlah simpel namun kompleks. Novel ini saya bilang dapat dijadikan buku resep, saking detailnya sang penulis menceritakan seluk beluk makanan tersebut, bagaimana warnanya, juga bagaimana cara memasaknya. Bumbu-bumbu politik, sosial, agama, dan isu lokal berpadu menjadi kesatuan yang mengiringi roman dan makanan tersebut. Makanan, sebagai bahasa universal ditunjukkan secara tegas lewat novel ini.

Jika teman-teman pernah menonton film trilogi Before Sunrise, Before Sunset dan Before Midnight, hal yang sama dalam dialog antar tokoh akan kalian temui di film ini. Serius, saya tidak tahu apakah film ini para pemainnya memang disengaja improvisasi atau tidak, karena memang semua dialog terasa mengalir begitu saja dan sangat jujur.

Gaya surealis dan absurd tetap ada di film ini (mengingat Edwin yang menyutradarai dan segala cirikhasnya) dihadirkan lewat mimpi-mimpi Aruna dan detail kecil pada adegan Bono dan Nad sedang berjoget di kapal disko. Sangat seru! Soundtrack film pun sangat pas dan memorable. Lagu Antara Kita dari trio RSD dibawakan kembali oleh Monita Tahalea dan yang paling saya suka (karena memang lagu kesukaan) yaitu Tentang Aku dari band Jingga yang dinyanyikan ulang oleh vokalis aslinya, Fe Utomo membuat film ini sangat manis untuk ditonton. Semua lagu di barisan soundtrack film ini sangat cocok dengan film ini.

Novel yang cerdas (terima kasih Mba Laksmi Pamuntjak atas novelnya yang bagus puollll.. ) dan fun telah berhasil diadaptasi menjadi film romantic comedy yang super seru dan pastinya juga brilian ini, wajib dinikmati oleh Kawan Kudapan Aksara! Yuk nonton film Aruna dan Lidahnya bareng temen-temen kamu!

Nilai film: 9/10

Nilai buku : Tidak perlu, sangat ciamik pokoknya!

*Cocok ditonton sambil makan rame-rame*

Advertisements

Tentang Hati yang Urban

Jiwaku kelak akan ditumbuhi beton-beton keras

Tawaku adalah suara klakson mobil pada jam-jam sibuk

Jariku bergerak selincah penyebrang yang berlari

Pikiranku adalah trotoar; terkadang hanya dilewati atau dihuni pedagang kaki lima

 

Keparat perkotaan!

Aku pusing, aku mual

Ingin aku memuntahkan segala kemiskinan, kemacetan dan ketidakadilan

Namun kerapkali yang kulahap adalah juga berisi kemunafikan dan hasil menjilat, sama saja

 

Kita mungkin pernah salah mengerti bahwa kehidupan kota yang kita inginkan adalah yang nantinya membunuh kita

Diabetes karena kau terlalu banyak makan nasi goreng

Melarat karena tuntutan fesyen media sosial

Tua dan emosional karena hidupmu banyak diadu domba

 

Namun mungkin kita pernah benar untuk menganggap bahwa kita perlu menempa diri

Pernahkah kau merindu rumahmu?

Sebagian dari kita sibuk menjadi bagian dari suburban

Apakah hatimu kini menjadi hati yang urban?

 

Kamu mungkin tak mengerti maksudku

Kau hanya perlu merasakannya

Bagaimana kehidupanmu kini?

Apa nuranimu masih seperti masa lampau?

 

Seperti saat kau belum canggih dan belum mengenal cara kota bekerja

Tanggal Tujuh di Februari

Aku mengingatnya sebagai hari yang tenang

Telah lama aku dambakan hari itu

Mendung, gelap, lalu hujan datang

Semua mudah ditebak

 

Aku tak pernah paham kekacauan dalam diriku

Ada hujan dan badai dalam ragaku

Perlahan, berdua mereka mengikis empatiku

Pikiranku hanya memainkan Radiohead dan mataku sudah cukup basah melihat banyak air yang tumpah

 

Aku lebih menyukai lagu-lagu tentang hal yang terluka kini

Bagaimana duka dilihat dari kedua sisi, baik putih maupun hitam

Apakah aku takut menjadi dewasa?

Aku memilih mengurung diri, terkadang itu adalah hal terbaik

 

Lidahku kelu, apakah ku harus mengurungkan omonganku demi menjaga banyak hati?

Nyatanya memang begitu, semua orang akan menanti kesalahanmu

Lawan terbesarmu adalah dirimu dan sejuta pikiran bagai ilalang liar

Kau hanya berharap air hujan dan lautan menenggelamkanmu

 

Hidup kini seperti bernapas dalam air

Serba salah namun kau perlu bertindak

Aku berharap tak tersedak akan hal duniawi

Aku hanya ingin bernapas lega

 

Memang aku bukan Chairil, tapi ini sajakku

Aku tulis di kamarku yang dingin

Saat hujan terus menerus datang

Saat masalah banjir tak pernah selesai

 

 

 

 

#skeetersaid

 

 

 

 

19.37

Aku hendak bertegur sapa
dengan langit gelap bernama malam
terkadang jauh lebih ramai
dibandingkan pagi yang jauh lebih terang

Aku tak sengaja bersenyawa
dengan cahaya dari lampu jalanan
remang berwarna jingga
meminta untuk diganti

Ada banyak obrolan di bis kota ini serta beragam rahasia yang tak kuasa untuk tak didengar
sedari pagi mungkin
dua atau tiga orang asing di sekitarku
mencoba merahasiakannya dan menjadikannya bakal topik                                                    untuk menggantikan camilan malam hari

semua kompleks dan asing
jalanan ini begitu tua dan lelah
aku hanya menatap bayangan yang terpantul pada jendela bis ini
lampu jalanan, pintu otomatis, lagu dari radio
hanya mereka yang akrab denganku

cepat, cepatlah
aku ingin tidur
bukan karena mengantuk
melainkan ingin bertemu denganmu

makhluk yang hampir asing bagiku

Masih Jomblo?

Halo!

Terima kasih sebelumnya untuk kalian yang sudah mampir dan ingin membaca catatan jurnal gue kali ini!

Kali ini gue gak nulis soal puisi dengan bahasa serta diksi yang cukup baku, hehehehe.

Gue cukup memikirkan banyak hal beberapa minggu ini dan diantaranya sampai kebawa mimpi, dimana itu cukup melelahkan dan sangat mengganggu konsentrasi gue. Salah satunya tentang status. Status yang gue maksud adalah berkaitan dengan kata “lajang”. Gue rasanya mau ketawa pas ngetik artikel ini, karena apa ya…..

Terus terang, ini sangat mempengaruhi dunia sekitar. Gimana gak kebawa mimpi, tiap kali buka Instagram ada aja temen-temen gue yang post foto di IG, terus ada yang komen, “yang begini masih jomblo??!” atau gak “yang begini disia-siain??!”.

Ada juga yang post foto lagi nari tapi captionnya tentang status dia yang masih jomblo atau apapun itu..

Jujur, gue sama sekali gak terganggu dengan hal itu, gue malah cenderung terhibur. But sometimes, gue ngerasa ada beberapa dari mereka yang emang bener-bener ngepost hal-hal diatas dengan tujuan untuk nge-kode  seseorang yang mereka suka alias mereka butuh kasih sayang. Ngenes ya, wkwk.

Menurut Chief Executive Officer Setipe.com, Razi Thalib, seperti dikutip dari Koran Tempo 4 Oktober 2015, angka jomblo mencapai 52 juta orang. Rentang usia jomblo, menurut dia, 18-40 tahun. Riset serupa juga dilakukan oleh Zola Yoana, pendiri Heart Inc. Menurut riset Zola, jumlah jomblo di atas usia 27 tahun meningkat dua persen setiap tahun pada 2010 hingga 2014.

Pada 2010, jumlah jomblo pria mencapai 4,9 juta orang sementara jomblo perempuan mencapai 4,7 juta. Angka ini meningkat drastis pada 2014, jumlah jomblo pria mencapai 5,1 juta dan perempuan mencapai 5 juta.

 

Hmmm, apakah lo salahsatunya ??

 

Nah, gue murni nulis ini karena selain mengisi waktu malas gue (gue lagi gak mood nugas wkwkwk), gue juga mau menjabarkan beberapa hal termasuk opini gue mengenai hal-hal yang mempengaruhi kejombloan di generasi Y saat ini, so check this out…

 

  1. Banyak dari kita yang belum move on!

Ini nih kasus terbesar yang bikin banyak dari kita masih ngejomblo! Tiap gue denger cerita dari beberapa orang di sekitar gue, pasti ada aja yang bilang, “habis putus dari dia, gue blom bisa nemuin yang lain. Dia masih suka ngechat sih, masih nyaman aja.”

Pokoknya banyak hal yang berbau seperti kalimat diatas dan itu kadang Cuma ngebuat gue speechless. Gue sangat paham kalau biasanya yang susah move on itu seringkali karena emang orang-orang tadi sudah punya ikatan yang cukup dekat dengan mantan. Ada juga yang emang tipenya gak bias lepas dari mantan. Ada juga yang putusnya tiba-tiba jadi belum ada bayangan ketika menjomblo. Ada banyak hal yang mungkin belum gue tahu, secara bukan gue yang ngerasain. Tapi yang pasti, gue cuman pengen bilang, kalo emang blom bisa move on ya yowisss.. gak apa apa. Itu sangat wajar, segala sesuatu perlu waktu. Tapi inget, jangan tunggu sampe gajah bisa terbang baru elo move on, wkwkwk.

 

  1. Udah move on, tapi lupa rasanya dideketin.

Ini jarang sih gue dapet cerita kayak gini. Cuma 1 atau 2 orang yang pernah cerita gini ke gue. Gue cukup lega denger cerita yang satu ini, karena finally temen gue udah move on (yeayyyy!). But, somehow dia tuh gak ngeh kalau sebenernya ada yang mau deketin dia. Saking legowonya dia, sampe lupa gimana rasanya pernah dideketin. Gue kadang suka kesel sendiri, ini temen gue nyadar apa nggak sih..hahaha. Sampai akhirnya dia bilang, “gue sekarang udah let it flow aja. Gue sebenernya tahu, cuman guenya emang masih adaptasi aja sama situasi pendekatan ini.” Kayak yang gue bilang diatas, semua hal butuh proses, termasuk poin ke-2 ini.

 

  1. Friendzone

Gak usah dijelasin. Ini nyesek. Suka sama sahabat sendiri. Kalo lo beruntung, dia bisa jadi pacar bahkan sampai jadi pasangan hidup, bisa juga tetep jadi temen yang hubungannya tetep baik. Kalo gak beruntung, ya persahabatan kelar wkwkwkwk.

 

  1. Jadian nggak, deket iya..

Nah, gue paling gak demen sama yang satu ini,asli! Jatohnya tuh kayak jemuran di siang bolong alias DIGANTUNG! Terkadang kita jadi susah mau gerak atau ada yang jadi lebih leluasa soalnya gak ada status yang ngikat, hiks. Gue sangat sedih kalau denger yang satu ini, soalnya pihak yang digantung jadi luntang-lantung, bahkan ada yang sampe lebih dari 5 tahun. Gila gak tuh??! Please, siapapun kalian yang ngegantungin atau yang digantungin, cobalah kalian saling berdamai. Diomongin gimana ending baiknya. Budayakan pamit yak gaes, jangan sampe ngilang 2 tahun terus muncul-muncul bikin baper, hahaha. Kan sedih…

 

  1. Jadian nggak, deket nggak, wkwkwk

Ini lebih minta ditampol, hahaha! Ini biasanya tersangkanya orang-orang yang udah kebelet baper dan terjebak pada khayalan film-film romantis amerika, wkwk. Coba tolong hilangkan persepsi tersebut, kawan! Masih banyak yang perlu dikejar, jangan sampe kerjaan lo di rumah Cuma menghayal padahal jelas-jelas lo gak pernah chatting sama dia atau lo Cuma sekali dua kali ngobrol sama dia. Please, jangan sakiti diri sendiri. Coba jogging aja setiap sore biar badan makin sehat, wkwk.

 

  1. Terlalu takut memulai hubungan

Menurut gue, untuk hal yang satu ini banyak dialami sama yang udah menjomblo tahunan, hahaha. Kikuk kikuk innocent gitu, wkwkwk. Kita mau punya seseorang yang bias jadi motivasi dan tempat keluh kesah, tapi kita bingung mau mulai darimana karena saking takutnya gak sesuai ekspektasi. Jujur, gue belum nemuin jawaban yang tepat dari poin ke-5 ini. Setiap orang gue rasa punya titik aman dan nyamannya masing-masing, so kalo emang lo rasa udah mencapai titik terbaik kenapa gak lo coba?? Perlahan tapi pasti kita harus keluar dari zona nyaman, ye nggak? Gak bosen sendiri mulu??! Kalau takut, coba dimulai dengan doa dulu, hasekkk!

 

  1. Makhluk bodoh amat yang sibuk sendiri

Asli, ini asik banget! Lo gak merasa baper kalo udah nemu orang yang kayak gini. Yang kita pikirin cuman berkarya atau lenggang leyeh-leyeh aja, gak peduli ada yang suka sama lo atau nggak. Biasanya nih yak, orang-orang yang kayak gini prinsip idupnya udah kuat, mereka emang mau serius ke satu orang kalau emang dia udah nemuin yang pas. Mereka cenderung mau fokus ke satu hal dulu, baru nanti fokus ke masalah percintaan. Gue jujur sangat iri sama mereka yang bias hidup di posisi ini, bener-bener jelas banget hidupnya, hahahahahaha!

 

  1. Sang Pengembara, wakakaka

Kalau yang ini biasanya dia sembari berjalan sambil menabur benih, hahaha. Namanya juga pengembara, sambil berjalan jauh sambil menuai pembelajaran dari benih-benih tersebut, hahaha. Tolonglah, kalau memang Cuma berniat jadi pengembara, jangan terlalu banyak menebar benih, ntar repot sendiri, wkwkwk.

 

  1. Emang dari awal mau langsung akad!

Ini mantep nih! Biasanya eksekusinya cepat dan tepat. Ada beberapa orang di sekitar gue yang memilih poin ke-8 ini. Mereka emang keliatan selalu sendiri, karena emang itu yang mereka yakini, lebih baik sendiri sambil mengembangkan banyak hal yang positif. Begitu tiba tanggal mainnya, apa yang mereka kembangkan tadi jadi sesuatu yang berguna.

 

  1. Terlalu milih-milih

Ah ini nih, persis kayak emak-emak di pasar tanah abang. Lo kira pasangan itu daster bisa milih-milih! Mungkin kalo emang lo punya banyak pilihan, bisa jadi lo milih yang terbaik. Nah, coba kalo gak ada, kan bingung! Wkwkwk. Jangan kebanyakan milih yak..

 

Itu sih beberapa hal yang mungkin masih membuat banyak dari kita menjomblo. Gue pribadi belum pernah tuh yang namanya pacaran, tapi ya gue hanya bisa bilang, “yaudah lah yaaa” wkwkwk. Di alkitab gue dan ini adalah ayat favorit gue bilang kalau segala sesuatu ada waktunya. Nah makanya percaya aja pasti segala sesuatu ada waktunya, tinggal elo aja yang milih mau pasrah dan ikhlas atau mau tetap kepala batu wkwkwk. Gue pikir masalah percintaan itu bukan perkara biasa dan cinta itu bukan hanya masalah jodoh dan pacar yak, bisa cinta ke hobi, ke orangtua, ke kucing, ke bakso atau apapun itu. Jadi jangan sampai masalah percintaan tersebut jadi gak berimbang dengan banyak aspek lain di kehidupan lo.

 

Cobalah untuk berdamai dan meyakini kalau emang hidup itu harus dijalani penuh semangat. Ingat, kalau manusia itu akan jauh lebih berguna kalau banyak melakukan hal yang positif. Bagi yang sudah punya pasangan, tolong kalian saling menjaga satu sama lain, tetap di jalur yang positif, semangat terus, saling menguatkan dan mengingatkan. Gue pribadi bisa sampai nulis artikel ini karena gue senang sama hidup gue yang jomblo 20 tahun tapi bisa punya banyak cerita masalah percintaan karena banyak orang di sekitar gue yang mengizinkan gue untuk mendengar kisah mereka. Apapun pilihan kalian, kisah kalian, cukup serahin aja sama Tuhan. Gue tau kok rasanya kesepian, tapi percaya selalu ada kebahagiaan yang lain di sekitar kita yang belum kita gali lebih dalam. Semangat yak gaes pokoknya!!

 

 

 

Sumber :

https://gaya.tempo.co/read/707100/populasi-jomblo-indonesia-mencapai-52-juta-orang (diakses pada 1 Oktober 2017, pukul 22.04 WIB)

Waktu Hujan Menyudutkan Kita

Waktu hujan menyudutkan kita,

di pojok ruang hampa itu melayang rindu-rindu kita

segala asa dan kenangan

yang pelan-pelan luput dari pikiran

 

kita sama-sama berdiam

tertegun dan hilang dalam keheningan

entah apa yang merasuk

namun pilu mampir di tepian bibir kita

 

selalu saja ada yang mampu kuceritakan ketika hujan datang

seperti setiap tetesnya adalah sumber aksara

yang mengendap dan meminta untuk ditulis

sembari aku menunggu kereta yang hendak membawaku pulang dari kota hujan

 

bila malam ini adalah perjumpaan terakhir kita di mimpi

biarkan malam ini tak berganti jadi pagi

biarkan hujan tetap menyudutkan kita

dalam ruang penuh fiksi, antara aku dan kau

Puisi tentang Hari Libur

Kamu adalah hari libur favoritku

Tidak secara nasional maupun internasional

tak perlu perayaan, tak perlu banyak peringatan

Kamu adalah kamu

 

Kamu adalah hari libur favoritku

Tidak perlu ketupat dan rendang, apalagi kue nastar

Kamu adalah kamu

Sudah cukup manis juga melegakan hati dan pikiranku di waktu istirahatku yang fana ini

Mengocok Dadu

Hidup ini seperti permainan ular tangga

kau bisa memiliki semuanya dan kau juga bisa kehilangan semuanya

kita bergantung pada peluang, nasib serta keuntungan

percayakah kamu?

 

Kau mengharapkan angka enam di tiap sisi atas kedua dadu itu

kau inginkan kesempurnaan dan kelancaran

kau melepaskan kedua dadu itu secara pasrah

kau menggoyang-goyangkan genggaman tanganmu

 

Permainan ular tangga ternyata memiliki makna yang dalam

kau belajar terjatuh, diabaikan, dilewati

kau juga belajar mengendalikan dirimu untuk tak serakah

kita tak pernah menyangka masa kecil kita ternyata begitu bijak

 

Kembali lagi pada peluang kedua dadu itu mengeluarkan angka enam

jika itu artinya kau bisa hidup bersamaku

apakah kau masih mengharapkan sebuah keberuntungan?

Aku hanya menanti kapan kau berhenti mengocok dadu-dadu itu

Barangkali sampai tanganmu pegal dan aku bosan lalu tertidur

 

Bulan

Bulan di langit malam itu adalah benda purbakala yang sedari dulu menyaksikan aku dan kamu

Anak-anak kecil menyukainya dan meminta ibu mereka mengambilkannya seraya bernyanyi

Bulan di langit malam itu adalah reinkarnasi lampu tamanmu yang mati

Lolongan anjing dan suara dengkuranmu menandakan ia telah tiba dengan wujudnya yang sempurna dan cahayanya yang terang benderang

Bulan di langit malam itu adalah alarm bagi ombak-ombak di lautan

Gelombang rindu kita pun hendak diaturnya

Bulan di langit malam itu adalah waktu, sebuah gelaran tanggal

yang memberikan kita pertemuan serta yang memisahkan kita